![]() |
| Foto : Dok. Penulis |
Gerakan
Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu gerakan sosial yang dilakukan secara
menyeluruh dan berkesinambungan dalam rangka menjadikan sekolah sebagai
organisasi pembelajaran yang warganya literat dengan melibatkan berbagai
elemen.
Elemen dimaksud antara lain warga internal sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid), dan eksternal (akademisi, penerbit, media massa, dunia usaha/dunia industri, tokoh masyarakat,
dan lain-lain), serta pemangku
kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seluruh elemen tersebut
diharapkan mampu menggerakkan dan mengembangkan GLS dalam rangka menjadikan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.Elemen dimaksud antara lain warga internal sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid), dan eksternal (akademisi, penerbit, media massa, dunia usaha/dunia industri, tokoh masyarakat,
Dalam Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah
disebutkan bahwa pengembangan gerakan literasi sekolah didasari oleh Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi
Pekerti. Permendikbud tersebut mengamanatkan pelaksanaan kegiatan pembiasaan
harian, mingguan, bulanan, dan semesteran. Implementasi GLS terdiri dari tiga
tahapan. Tahapan dimaksud adalah (1) penumbuhan minat baca melalui kegiatan membaca
selama 15 menit; (2) meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan
menanggapi buku pengayaan; dan (3) meningkatkan kemampuan literasi menggunakan
buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.
Fakta
di lapangan menunjukkan bahwa gerakan literasi sekolah menemui berbagai kendala
tidak terkecuali di wilayah Sulawesi Tenggara. Kendala yang dihadapi antara
lain banyak sekolah tidak memiliki perpustakaan. Berdasarkan data Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (PNRI) tahun 2015 dari 254.432 sekolah jenjang SD
sampai SMA/SMK yang terdaftar, hanya 118.599 sekolah yang memiliki gedung
perpustakaan. Artinya jumlah sekolah yang telah memiliki perpustakaan hanya
sekitar 46,61 %. Dari perpustakaan yang ada itu, masih banyak yang kekurangan
buku baik dari segi jenis maupun jumlahnya serta tidak adanya tenaga
pustakawan. Sehingga tidak jarang ditemukan seorang guru mata pelajaran
merangkap sebagai pengelola perpustakaan. Padahal guru tersebut tidak pernah
dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mengelola
sebuah perpustakaan.
Kendala
lainnya adalah kurangnya sosialisasi yang diberikan kepada satuan pendidikan.
Setelah diluncurkan secara simbolis oleh Mendikbud Anies Baswedan pada tanggal
18 Agustus 2015, gerakan ini masih kurang terdengar gaungnya di daerah-daerah termasuk
di Sulawesi Tenggara, bahkan masih terdengar asing di kalangan guru sekalipun. Hanya
segelintir guru di daerah yang mendapatkan informasi tentang gerakan ini, yaitu
guru yang memang aktif memantau dan mengikuti perkembangan terkini melalui
media. Selain itu, harus diakui pula adanya fakta bahwa minat baca dan kemampuan
literasi guru itu sendiri masih belum memadai. Dibutuhkan langkah-langkah yang
sistematis dan berkelanjutan untuk mengatasi hal tersebut, antara lain dengan
memberikan pelatihan dan pendampingan yang terstruktur dan berjenjang.
Menyadari
begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi di tingkat sekolah, maka dukungan
publik yang efektif dan masif dalam gerakan literasi sekolah merupakan suatu
keniscayaan. Pihak sekolah perlu membuat suatu terobosan untuk meningkatkan
partisipasi publik. Penulis menawarkan tiga bentuk terobosan sederhana guna
meningkatkan partisipasi publik dalam gerakan literasi sekolah. Terobosan
dimaksud yaitu melakukan pameran sekolah dengan menghadirkan seluruh stakeholder, membangun sinergi antara
sekolah dengan orang tua siswa yang diwadahi oleh komite sekolah, dan menjalin
kemitraan dengan pihak eksternal lainnya seperti relawan, alumni, komunitas
pegiat literasi, dunia usaha dan industri, serta media massa.
Pameran
sekolah dengan menghadirkan seluruh stakeholder
sekolah merupakan suatu ajang strategis untuk menumbuhkan dan meningkatkan
partisipasi publik dalam mendukung kegiatan-kegiatan sekolah termasuk gerakan
literasi sekolah ini. Melalui kegiatan tersebut pihak sekolah dapat memamerkan
hasil karya nyata dari peserta didik. Produk pameran tentunya akan bervariasi
disesuaikan dengan jenis dan jenjang sekolah masing-masing. Sebagai contoh
kegiatan pameran bertajuk “Mini Expo Tanaman Hortikultura” yang digelar setiap
tahunnya di SMK Negeri 8 Konawe Selatan. Dengan menyaksikan secara langsung
hasil karya peserta didik, maka publik akan semakin termotivasi untuk mendukung
program sekolah.
Membangun
sinergi antara sekolah dengan orang tua siswa dapat dilakukan melalui pertemuan
secara berkala membahas masalah-masalah sekolah dalam wadah komite sekolah.
Dalam pertemuan tersebut pihak sekolah dapat memaparkan tentang esensi dari
gerakan literasi sekolah, kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya,
serta bentuk dukungan yang diharapkan dari orang tua siswa. Misalnya, untuk
mengatasi keterbatasan jumlah buku pengayaan di perpustakaan sekolah, maka
orang tua siswa yang berasal dari keluarga berkecukupan dapat diminta untuk
menyediakan buku bacaan bagi anaknya.
Selain
itu, sinergi kegiatan belajar di rumah dan di sekolah juga sangat diperlukan.
Hal ini bertujuan untuk menyinkronkan kegiatan belajar anak di rumah dan di
sekolah. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menjadi teladan dalam rangka
menjadikan rumah sebagai lingkungan yang literat. Para orang tua sedapat
mungkin meluangkan waktunya untuk membaca dan bercerita bersama di ruang
keluarga. Dengan demikian sinergi yang diharapkan dapat terbangun secara
fundamental.
Langkah
terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah menjalin kemitraan dengan pihak
eksternal lainnya. Terdapat banyak kalangan yang dapat diajak untuk
berpartisipasi dalam gerakan literasi sekolah. Misalnya kelompok-kelompok
relawan, alumni, perusahaan percetakan dan penerbitan buku, serta media massa.
Jika dilakukan sosialisasi secara efektif tidak menutup kemungkinan kelompok
relawan ataupun alumni dapat memberikan dukungan nyata dengan memberikan
sumbangan buku bacaan. Kerjasama dengan perusahaan penerbitan buku dapat
dilakukan melalui kegiatan bazar buku dengan harga murah.
Bentuk
dukungan dari media massa antara lain media massa dapat meningkatkan peliputan
kegiatan-kegiatan literasi berbasis masyarakat. Sehingga informasi tentang
kegiatan tersebut dapat tersebarluaskan dan ‘mewabah’ di daerah lainnya. Media
massa juga dapat memberikan dukungan dalam bentuk penyajian artikel-artikel
menarik dan informatif yang dapat menumbuhkan budi pekerti peserta didik. Di
samping itu, media massa dapat memberi ruang bagi peningkatan kemampuan
literasi guru. Misalnya dengan menyediakan kolom khusus untuk hasil karya tulis
para guru. Dengan terbiasa menulis maka kemampuan literasi guru akan semakin
meningkat dan menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya. Karena pada
hakikatnya kemampuan literasi terbentuk dari dua kemampuan dasar. Yaitu
kemampuan membaca sebagai proses input dan kemampuan menulis sebagai outputnya.
Melalui penerapan langkah-langkah di atas diharapkan partisipasi publik dalam
gerakan literasi sekolah dapat tumbuh dan berkembang guna menjadikan peserta
didik sebagai insan yang literat yang pada akhirnya akan terwujud bangsa yang
literat. Aamiin.
Referensi :
1. Dirjen
Dikdasmen. 2016. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Kemendikbud.
2. Direktorat
Pembinaan SMK. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMK. Jakarta: Kemendikbud.
Tulisan ini telah dimuat di kolom Opini Kendari Pos edisi Selasa 26 April 2016


No comments:
Post a Comment