Adnow 2

MenangBanyak
loading...

Sunday, 12 June 2016

Urgensi Partisipasi Publik dalam Gerakan Literasi Sekolah


Foto : Dok. Penulis
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu gerakan sosial yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan dalam rangka menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat dengan melibatkan berbagai elemen.
Elemen dimaksud antara lain warga internal sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid), dan eksternal (akademisi, penerbit, media massa, dunia usaha/dunia industri, tokoh masyarakat,
dan lain-lain), serta pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seluruh elemen tersebut diharapkan mampu menggerakkan dan mengembangkan GLS dalam rangka menjadikan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.
 Dalam Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah disebutkan bahwa pengembangan gerakan literasi sekolah didasari oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Permendikbud tersebut mengamanatkan pelaksanaan kegiatan pembiasaan harian, mingguan, bulanan, dan semesteran. Implementasi GLS terdiri dari tiga tahapan. Tahapan dimaksud adalah (1) penumbuhan minat baca melalui kegiatan membaca selama 15 menit; (2) meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan; dan (3) meningkatkan kemampuan literasi menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa gerakan literasi sekolah menemui berbagai kendala tidak terkecuali di wilayah Sulawesi Tenggara. Kendala yang dihadapi antara lain banyak sekolah tidak memiliki perpustakaan. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) tahun 2015 dari 254.432 sekolah jenjang SD sampai SMA/SMK yang terdaftar, hanya 118.599 sekolah yang memiliki gedung perpustakaan. Artinya jumlah sekolah yang telah memiliki perpustakaan hanya sekitar 46,61 %. Dari perpustakaan yang ada itu, masih banyak yang kekurangan buku baik dari segi jenis maupun jumlahnya serta tidak adanya tenaga pustakawan. Sehingga tidak jarang ditemukan seorang guru mata pelajaran merangkap sebagai pengelola perpustakaan. Padahal guru tersebut tidak pernah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mengelola sebuah perpustakaan.
Kendala lainnya adalah kurangnya sosialisasi yang diberikan kepada satuan pendidikan. Setelah diluncurkan secara simbolis oleh Mendikbud Anies Baswedan pada tanggal 18 Agustus 2015, gerakan ini masih kurang terdengar gaungnya di daerah-daerah termasuk di Sulawesi Tenggara, bahkan masih terdengar asing di kalangan guru sekalipun. Hanya segelintir guru di daerah yang mendapatkan informasi tentang gerakan ini, yaitu guru yang memang aktif memantau dan mengikuti perkembangan terkini melalui media. Selain itu, harus diakui pula adanya fakta bahwa minat baca dan kemampuan literasi guru itu sendiri masih belum memadai. Dibutuhkan langkah-langkah yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengatasi hal tersebut, antara lain dengan memberikan pelatihan dan pendampingan yang terstruktur dan berjenjang.
Menyadari begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi di tingkat sekolah, maka dukungan publik yang efektif dan masif dalam gerakan literasi sekolah merupakan suatu keniscayaan. Pihak sekolah perlu membuat suatu terobosan untuk meningkatkan partisipasi publik. Penulis menawarkan tiga bentuk terobosan sederhana guna meningkatkan partisipasi publik dalam gerakan literasi sekolah. Terobosan dimaksud yaitu melakukan pameran sekolah dengan menghadirkan seluruh stakeholder, membangun sinergi antara sekolah dengan orang tua siswa yang diwadahi oleh komite sekolah, dan menjalin kemitraan dengan pihak eksternal lainnya seperti relawan, alumni, komunitas pegiat literasi, dunia usaha dan industri, serta media massa.
Pameran sekolah dengan menghadirkan seluruh stakeholder sekolah merupakan suatu ajang strategis untuk menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi publik dalam mendukung kegiatan-kegiatan sekolah termasuk gerakan literasi sekolah ini. Melalui kegiatan tersebut pihak sekolah dapat memamerkan hasil karya nyata dari peserta didik. Produk pameran tentunya akan bervariasi disesuaikan dengan jenis dan jenjang sekolah masing-masing. Sebagai contoh kegiatan pameran bertajuk “Mini Expo Tanaman Hortikultura” yang digelar setiap tahunnya di SMK Negeri 8 Konawe Selatan. Dengan menyaksikan secara langsung hasil karya peserta didik, maka publik akan semakin termotivasi untuk mendukung program sekolah.
Membangun sinergi antara sekolah dengan orang tua siswa dapat dilakukan melalui pertemuan secara berkala membahas masalah-masalah sekolah dalam wadah komite sekolah. Dalam pertemuan tersebut pihak sekolah dapat memaparkan tentang esensi dari gerakan literasi sekolah, kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya, serta bentuk dukungan yang diharapkan dari orang tua siswa. Misalnya, untuk mengatasi keterbatasan jumlah buku pengayaan di perpustakaan sekolah, maka orang tua siswa yang berasal dari keluarga berkecukupan dapat diminta untuk menyediakan buku bacaan bagi anaknya.
Selain itu, sinergi kegiatan belajar di rumah dan di sekolah juga sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk menyinkronkan kegiatan belajar anak di rumah dan di sekolah. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menjadi teladan dalam rangka menjadikan rumah sebagai lingkungan yang literat. Para orang tua sedapat mungkin meluangkan waktunya untuk membaca dan bercerita bersama di ruang keluarga. Dengan demikian sinergi yang diharapkan dapat terbangun secara fundamental.
Langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah menjalin kemitraan dengan pihak eksternal lainnya. Terdapat banyak kalangan yang dapat diajak untuk berpartisipasi dalam gerakan literasi sekolah. Misalnya kelompok-kelompok relawan, alumni, perusahaan percetakan dan penerbitan buku, serta media massa. Jika dilakukan sosialisasi secara efektif tidak menutup kemungkinan kelompok relawan ataupun alumni dapat memberikan dukungan nyata dengan memberikan sumbangan buku bacaan. Kerjasama dengan perusahaan penerbitan buku dapat dilakukan melalui kegiatan bazar buku dengan harga murah.
Bentuk dukungan dari media massa antara lain media massa dapat meningkatkan peliputan kegiatan-kegiatan literasi berbasis masyarakat. Sehingga informasi tentang kegiatan tersebut dapat tersebarluaskan dan ‘mewabah’ di daerah lainnya. Media massa juga dapat memberikan dukungan dalam bentuk penyajian artikel-artikel menarik dan informatif yang dapat menumbuhkan budi pekerti peserta didik. Di samping itu, media massa dapat memberi ruang bagi peningkatan kemampuan literasi guru. Misalnya dengan menyediakan kolom khusus untuk hasil karya tulis para guru. Dengan terbiasa menulis maka kemampuan literasi guru akan semakin meningkat dan menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya. Karena pada hakikatnya kemampuan literasi terbentuk dari dua kemampuan dasar. Yaitu kemampuan membaca sebagai proses input dan kemampuan menulis sebagai outputnya. Melalui penerapan langkah-langkah di atas diharapkan partisipasi publik dalam gerakan literasi sekolah dapat tumbuh dan berkembang guna menjadikan peserta didik sebagai insan yang literat yang pada akhirnya akan terwujud bangsa yang literat. Aamiin.


Referensi :
1.      Dirjen Dikdasmen. 2016. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Kemendikbud.
2.      Direktorat Pembinaan SMK. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMK. Jakarta: Kemendikbud. 

      Tulisan ini telah dimuat di kolom Opini Kendari Pos edisi Selasa 26 April 2016

No comments:

Post a Comment