Adnow 2

MenangBanyak
loading...

Sunday, 4 December 2016

Membangun Patriotisme dari Sekolah

CSR Opini
Foto : Dok. Penulis
Dewasa ini sikap patriotisme di kalangan generasi muda dirasa kian memudar. Hal ini tentunya menjadi suatu masalah tersendiri dalam upaya menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peringatan Hari Pahlawan 10 November merupakan momentum yang tepat untuk menyoal kembali tentang sikap patriotisme dan nasionalisme. Karena para pahlawan merupakan sosok teladan yang telah memberikan bukti nyata dalam hal kecintaan terhadap tanah air lewat perjuangan dan pergerakan yang mereka lakukan. Meskipun disadari bahwa tantangan yang dihadapi di era
perjuangan para pahlawan pada masa lalu sudah jauh berbeda dengan tantangan yang dihadapi pada era kekinian.
Patriotisme merupakan perwujudan dari rasa cinta seseorang terhadap tanah airnya. Menurut Ervin Staub (1997) patriotisme terbagi dalam dua bagian yaitu patriotisme buta (blind patriotism) dan patriotisme konstruktif (constructive patriotism). Patriotisme buta adalah sebuah keterikatan kepada negara dengan ciri khas tidak mempertanyakan segala sesuatu, loyal, dan tidak toleran terhadap kritik. Patriotisme buta merupakan cikal bakal lahirnya totaliterisme atau chauvinisme.
Patriotisme konstruktif adalah sebuah keterikatan pada bangsa dan negara dengan mendukung adanya kritik dan pertanyaan dari anggotanya terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan sehingga diperoleh suatu perubahan yang positif untuk mencapai kesejahteraan bersama. Kritik dan evaluasi dimaksudkan untuk menjaga agar kelompoknya tetap berada pada jalur yang benar. Patriotisme konstruktif juga mencintai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Patriotisme sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dengan patriotisme maka generasi muda dapat mengorbankan tenaga, pikiran, harta, dan bahkan jiwa raganya demi negara dan bangsa Indonesia yang dicintainya. Dengan patriotisme yang dimiliki khususnya oleh kalangan muda, maka bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang kuat, bermartabat, dan disegani dalam kancah internasional. Karena harapan dan impian akan kemajuan bangsa ini terletak pada pundak generasi muda yang tentunya merupakan cikal bakal pemimpin bangsa di masa yang akan datang.
Harapan itu seolah menjauh jika kita merenungi kembali betapa semakin memudarnya sikap patriotisme di kalangan generasi muda. Sebagai contoh, sebagian dari pelajar kita bukannya sibuk untuk membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan namun sibuk dengan tawuran antarsesama pelajar, tidak mematuhi tata tertib sekolah, merusak fasilitas umum, terlibat narkoba, dan berbagai kegiatan negatif  lainnya. Padahal seharusnya mereka melakukan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
Fenomena lain yang bisa dijadikan contoh adalah generasi muda sekarang ini lebih ‘akrab’ dengan lagu-lagu pop Korea dibanding lagu-lagu wajib nasional. Atau mereka lebih hafal nama-nama artis boyband atau girlband daripada nama-nama pahlawan. Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi bagi bangsa Indonesia yang sementara berkembang dan berusaha mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju.
Semakin lunturnya kadar patriotisme di kalangan generasi muda dipicu oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya antara lain kondisi kehidupan bernegara yang carut-marut baik dari aspek politik, ekonomi, maupun sosial. Dunia politik dipenuhi kisruh dan tarik-menarik kepentingan oleh para penguasa. Pertumbuhan ekonomi belum bisa dinikmati secara merata dan berkeadilan, bahkan diperparah dengan maraknya korupsi dan pungli yang terjadi di mana-mana.  Selain itu, dalam lingkungan sosial masyarakat, generasi muda semakin sulit untuk mendapatkan sosok panutan yang mencerminkan sikap patriotisme karena sosok panutan tersebut semakin langka. Semakin tertinggalnya Indonesia dengan negara-negara lain dalam berbagai aspek kehidupan. Serta munculnya sikap sukuisme dan etnosentrisme.
Faktor eksternalnya terutama dipicu oleh arus globalisasi yang membawa paham liberalisme, sehingga generasi muda kita kebanyakan berwatak individualis. Watak ini tentunya bertentangan dengan jati diri bangsa kita yang memiliki budaya gotong-royong. Perkembangan teknologi dan informasi begitu cepat dan masif sehingga tidak bisa lagi difilter sesuai kepribadian bangsa Indonesia. Hal ini menyebabkan generasi muda lebih tertarik dengan kebudayaan negara lain dibanding kebudayaannya sendiri.
Pendidikan formal melalui institusi sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya membangun sikap patriotisme. Berbagai kegiatan bisa dilakukan baik melalui kegiatan pembelajaran kurikuler maupun ekstrakurikuler. Dalam kegiatan pembelajaran, setiap guru dapat  mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai kepahlawanan dan mengajak siswa untuk menyanyikan lagu-lagu nasional di akhir pembelajaran. Selain itu, untuk menanamkan rasa cinta tanah air dapat pula dilakukan melalui kegiatan upacara bendera dan peringatan hari-hari besar nasional.
Berbagai kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dilakukan untuk menanamkan kecintaan terhadap tanah air dan memahami serta menerima keragaman sebagai bangsa Indonesia yang majemuk. Misalnya kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan pecinta alam. Melalui kegiatan tersebut diharapkan lahir generasi muda yang berjiwa patriotisme dan ksatria, yang semakin mencintai alam, budaya, dan bangsanya sendiri. Sehingga mereka bersedia berkorban untuk melakukan suatu tugas besar demi suatu cita-cita besar yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga! (*)

*) Tulisan ini telah dimuat di halaman Opini Kendari Pos edisi Sabtu, 12 November 2016

No comments:

Post a Comment